Kamis, 14 Mei 2015

Ilmu Budaya Dasar BAB 9

Manusia dan Tanggung Jawab

A.    Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah suatu kesadaran akan menanggung perbuatan dan tingkah laku yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga merupakan suatu perwujudan dalam memenuhi kewajibannya. Manusia yang bertanggung jawab adalah ciri manusia yang beradab dan bermoral.
Setiap manusia pasti memiliki tanggung jawabnya masing-masing. Tanggung jawab merupakan sikap terpuji yang dimiliki oleh setiap manusia, karena itu adalah sebuah kesadaran. Sikap kesadaran ini merupakan pencerminan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai akal pikiran. Sehingga manusia dapat memilah dan memilih untuk setiap tanggung jawab yang akan dilakukannya.

B.     Macam-Macam Tanggung Jawab
Ada beberapa jenis tanggung jawab, diantaranya :
a.   Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri, menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia yang memiliki akal pikiran. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah mengenai dirinya sendiri. Menurut sifat dasarnya, manusia adalah makhluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi, karena itu manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, dan angan-angan sendiri.
b.   Tanggung jawab terhadap keluarga
Tiap anggota keluarga wajib bertanggungjawab pada keluarganya. Tanggung jawab ini tidak hanya menyangkut nama baik keluarga, tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan. Misalnya, seorang ayah sebagai kepala keluarga ia berjanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya. Hal tersebut dilakukannya demi kehidupan dan kesejahteraan keluarganya. 
c.   Tanggung jawab terhadap masyarakat
      Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu manusia harus berkomunikasi dengan manusia yang lainnya. Sehingga dengan demikian, manusia disini merupakan bagian dari masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab, agar dapat melangsungkan hidupnya di dalam masyarakat tersebut.
d.   Tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara
      Setiap manusia atau individu adalah warga negara dari suatu negara. Manusia tidak adapt berbuat semaunya sendiri. Dalam berpikir dan bertindak, manusia terikat oleh norma-norma dan aturan yang dibuat oleh negara. Jika perbuatannya salah, dan melanggar aturan, maka manusia itu harus bertanggung jawab kepada negara.
e.   Tanggung jawab terhadap Tuhan
      Ini merupakan tanggung jawab manusia yang paling utama. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia harus mentaati segala ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan-Nya. Contohnya, setiap muslim diwajibkan sholat lima waktu dalam sehari, maka kita sebagai muslim wajib mempertanggung jawabkan sholat lima waktu tersebut.

C.    Pengabdian dan Pengorbanan
Pengabdian
Pengabdian adalah suatu perwujudan dari sebuah sikap kesetiaan, cinta kasih sayang, norma, yang dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Misalnya seorang ayah bekerja keras sehari penuh mencari nafkah untuk mencapai kebutuhan, hal itu berarti mengabdi kepada keluarga. Selain itu, yang paling utama adalah mengabdi kepada Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan berarti sebuah perwujudan cinta dan sikap ikhlas beribadah kepada Tuhan, dan itu merupakan perwujudan tanggung jawab kepada Tuhan.

Pengorbanan
Pengorbanan adalah suatu sikap yang menyatakan kebaktian terhadap sesuatu secara ikhlas dan tanpa pamrih. Pengorbanan dapat berupa tenaga, pikiran, harta benda dan sebagainya. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Terdapat perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian lebih menunjuk kepada perbuatan, sedangkan pengorbanan lebih menunjuk kepada pemberian sesuatu. Namun antara pengabdian dan pengorbanan juga terdapat persamaan, yaitu keduanya harus disertai rasa ikhlas dan tanpa pamrih.


Daftar Pustaka :
Buku Seri Diktat Kuliah MKDU : Ilmu Budaya Dasar. Karya Widyo Nugroho & Achmad Muchji. Penerbit Universitas Gunadarma.


Minggu, 10 Mei 2015

Ilmu Budaya Dasar BAB 8

Manusia dan Pandangan Hidup

A.    Pengertian Pandangan Hidup dan Ideologi
Setiap manusia tentu mempunyai pandangan hidupnya masing-masing yang perlu dipersiapkan sejak dini agar dapat terlaksana. Adapun pengertian pandangan hidup itu adalah pendapat  ataupun pertimbangan yang dijadikan sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petujuk hidup di dunia agar dapat menjalani hidup lebih baik lagi dimasa yang akan datang. Pendapat atau pertimbangan disini merupakan hasil pemikiran manusia itu sendiri yang berdasarkan pengalaman hidup atau sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Pada dasarnya, pandangan hidup mempunyai empat unsur yang saling terkait satu sama lain yang tidak dapat terpisahkan, yaitu cita-cita, kebijakan, usaha, dan keyakinan atau kepercayaan. Dari empat unsur tersebut, lebih jelasnya akan dijelaskan dpada materi setelah ini.

Ideologi adalah gabungan antara pandangan hidup yang merupakan nilai-nilai yang telah melekat dari suatu bangsa serta Dasar Negara yang menjadi pedoman hidup suatu bangsa. Ideologi mencerminkan cara berfikir masyarakat, suatu bangsa maupun negara, namun juga membentuk masyarakat menuju cita-citanya. Nilai-nilai ideologi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

B.     Cita-cita
Cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan, kemauan yang selalu ada dalam pikiran seseorang pada masa yang akan datang. Dengan demikian cita-cita merupakan pandangan hidup tentang masa depan. Tentunya tujuan yang ingin dicapai adalah kebajikan atau segala sesuatu yang  memiliki tujuan baik. Setiap manusia mempunyai cita-cita yang berbeda, keinginan, harapan, tujuan, dan kemauan yang makin tinggi tingkatannya. Untuk mencapai cita-cita tersebut tentunya harus ditempuh dengan kerja keras, usaha dan perjuangan. Selain itu do’a juga berperan penting dalam menggapai cita-cita. Dengan do’a seseorang memohon kepada Tuhan demi kelancaran dan kemudahan dalam menggapai cita-citanya. Karena manusia hanya bisa berusaha dan berjuang dan Tuhan lah yang menentukan dan merestuinya.

C.    Kebajikan
Kebajikan dapat di katakan juga kebaikan. Perbuatan yang mendatangkan kebaikan, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma termasuk norma agama dan etika. Manusia dapat menentukan sendiri mana yang baik dan mana yang buruk. Baik buruknya ditentukan oleh suara hati. Dengan suara hati seseorang dapat menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan. Dengan berbuat kebaikan membuat manusia menjadi makmur, bahagia, damai, dan tentram. Kebajikan manusia yang nyata dan dapat dirasakan dalam tingkah lakunya. Karena tingkah laku merupakan bersumber pada pandangan, maka setiap orang memiliki tingkah laku yang berbeda-beda.

Faktor-faktor yang menetukan tingkah laku setiap orang ada tiga hal. Pertama faktor pembawaan    (heriditas)  yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan. Pembawaan merupakan  hal yang diturunkan  oleh orang  tua. Kedua faktor lingkungan (environment), lingkungan membentuk jiwa seseorang meliputi lingkungan keluarga, pendidikan dan masyarakat. Ketiga faktor pengalaman, memberikan manusia suatu bekal yang dipergunakan sebagai pertimbangan sebelum mangambil tindakan.

D.    Usaha/Perjuangan
Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Setiap manusia harus kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Usaha/perjuangan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya, dalam mewujudkan cita-cita, berjuang dari penderitaan hidup, ingin pergi ke suatu tempat dan sebagainya. Dalam Agama pun manusia diperintahkan untuk bekerja keras. Sebagaimana dalam salah satu Hadist Rasulullah SAW, yang artinya “Bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selama-lamanya.”

Kerja keras dapat dilakukan dengan ilmu maupun dengan tenaga ataupun dengan keduanya. Misalnya para ilmuan, pengamat, politisi lebih banyak bekerja keras dengan ilmunya. Sebaliknya para petani, nelayan, buruh lebih banyak bekerja keras dengan tenaganya. Adapun yang bekerja keras dengan ilmu dan tenaga misalnya tentara dengan strategi perangnya.

E.     Keyakinan atau Kepercayaan
Keyakinan/kepercayaan adalah suatu pandangan hidup manusia yang berasal dari akal atau Tuhan, yang kemudian di anut untuk menjadi pedoman hidup dan suatu identitas bagi setiap manusia. Dalam agama Islam keyakinan disebut juga keimanan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran Naturalisme, aliran Intelektualisme, dan aliran Gabungan (Naturalisme dan Intelektualisme). (1).Aliran Naturalisme adalah hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur, dan itu dari Tuhan. Bagi yang tidak percaya pada Tuhan, natur itulah yang tertinggi. (2).Aliran Intelektualisme, dasar aliran ini adalah logika/akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir. Mana yang benar menurut akal itulah yang baik. (3).Aliran Gabungan, dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. kekuatan gaib yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan.

F.     Langkah-Langkah Berpandangan Hidup yang Baik
Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup yang bermacam-macam untuk dapat mencapai dan berhasil dalam kehidupan yang diinginkannya. Tetapi apapun itu, yang terpenting adalah memiliki pandangan hidup yang baik agar dapat mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik pula. Berikut adalah langkah-langkah berpandangan hidup yang baik :
Mengenal
Mengenal merupakan langkah awal berpandangan hidup yang baik, karena dengan mengenal, manusia akan mendapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga tidak mengambil langkah yang salah diawal.
Mengerti
Mengerti sebagai langkah selanjutnya dari mengenal. Dengan mengerti, ada kecenderungan mengikuti apa yang terdapat dalam pandangan hidup.
Menghayati
Setelah mengerti pandangan hidup selanjutnya adalah menghayati padangan hidup itu. Dengan menghayati pandangan hidup manusia memperoleh gambaran yang tepat dan benar tentang pandangan hidup itu sendiri.
Meyakini
Meyakini merupakan suatu hal untuk cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai  suatu tujuan hidupnya. Dengan meyakini berarti secara langsung ada penerimaan yang ikhlas atas pandangan hidup tersebut.
Mengabdi
Langkah terakhir untuk berpandangan hidup yang baik adalah mengabdi. Yaitu perwujudan  yang berupa perbuatan. Dengan mengabdi maka manusia akan merasakan manfaatnya. Pengabdian ini hendaknya dijadikan pakaian, baik dalam waktu tentram maupun bila menghadapi hambatan dan tantangan.


Daftar Pustaka 
Buku Seri Diktat Kuliah, MKDU : Ilmu Budaya Dasar. Karya Widyo Nugroho & Achmad Muchji. Penerbit Universitas Gunadarma.

Sabtu, 09 Mei 2015

Ilmu Budaya Dasar BAB 7

Manusia dan Keadilan

A.    Pengertian Keadilan
Keadilan adalah suatu kelayakan yang menjunjung kejujuran dan kebenaran. Kelayakan diibaratkan sebagai titik tengah antara kedua wadah ujung neraca yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung neraca ini berisi dua buah benda. Bila kedua benda tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing benda juga  harus memperoleh hasil pengukuran atau berat yang sama, maka hal tersebut disebut adil. Apabila tidak sama, maka masing-masing benda akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut disebut tidak adil.

Kita sebagai sesama manusia harus bisa berlaku adil dan selalu mengutamakan kejujuran. Karena dengan kejujuran itu, maka keadilan mudah untuk dicapai. Dan agar kita bisa memperlakukan hak dan kewajiban secara seimbang.

B.     Keadilan Sosial
Keadilan sosial berarti keadilan yang merupakan hak milik setiap individu di dalam masyarakat. Keadilan ini di bahas juga dalam dasar negara Indonesia yaitu Pancasila, pada sila kelima yang berbunyi : “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dari pernyataan tersebut jelas bahwa masyarakat yang harmonis dan menjunjung keadilan merupakan cita-cita setiap bangsa. Setiap orang menginginkan hidup dalam keadilan dan persamaan hak dengan berpedoman pada peri kemanusian.

C.    Berbagai Macam Keadilan
            1.  Keadilan Legal atau Keadilan Moral
       Keadilan yang timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat menjalankan fungsinya secara baik.
2.  Keadilan Distributif
         Keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).
3.  Keadilan Komutatif
         Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat

D.    Kejujuran
Kejujuran berati apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya. Jujur juga berarti apa yang dikatakan harus sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya. Jujur berarti pula menepati janji atau menepati sanggupan, baik yang telah terlahir dalam kata-kata maupun apa yang masih di dalam hati. Jadi seseorang yang tidak menepati niatnya berarti mendustai dirinya sendiri. Pada hakekatnya kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi. Kesadaran pengakuan akan adanya hak dan kewajiban serta rasa takut akan dosa. Jujur memberikan keberanian dan ketentraman hati, dapat membersihkan diri serta membuat luhurnya budi pekerti.

E.     Kecurangan
Kecurangan dapat dikatakan bagian dari lawan kata jujur atau kejujuran. Kecurangan identik dengan ketiakjujuran, sama pula dengan licik. Kecurangan merupakan suatu cara untuk memperoleh suatu hak dengan cara tidak wajar dan apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Kecurangan menyebabkan orang menjadi serakah, tamak, ingin memproleh hak atau keuntungan yang lebih banyak dan juga dapat merugikan orang lain. Sifat ini seharusnya dijauhkan oleh manusia, karena di larang dalam agama.

F.     Perhitungan (Hisab) dan Pembalasan
Segala perbuatan dan perkataan manusia pasti ada pembalasannya apabila manusia sudah dipanggil oleh Allah SWT nanti. Seluruh perbuatan amal soleh, perkataan, dan seluruh bagian dari tubuh manusia yang baik maupun buruk akan dipertanggungjawabkan di hari akhir nanti. Apabila manusia sudah dipanggil oleh Allah SWT maka manusia akan mengalami suatu masa yaitu hari perhitungan (Yaumul Hisab) dan hari pembalasan (Yaumul Jaza). Dimana seluruh amal perbuatan setiap manusia akan dihisab dan diberi balasan oleh Allah SWT. Hal ini juga telah ditetapkan oleh Al-Quran dan juga Sunnah Rasulullah SAW.

G.    Pemulihan Nama Baik
    Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya baik dan tidak rusak. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang atau tetangga diesekitarnya adalah suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan keadaan tingkah laku atau perbuatan atau boleh dikatakan bahwa baik atau tidak baik adalah tingkah laku perbuatannya. Untuk memulihkan nama baik, manusia harus berinstropeksi diri atau meminta maaf.  Berinstropeksi diri dan minta maaf tidak hanya dibibir dan perkataan dalam hati saja, tetapi juga  harus beratingkah laku yang sopan, ramah, berbuat norma yang sesuai. Selain itu, manusia juga harus saling membantu dengan kasih sayang tanpa pamrih, taqwa kepada Tuhan dan mempunyai sikap tawakal, jujur dan adil

H.    Pembalasan
      Pembalasan adalah suatu reaksi atau tanggapan atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan akan adanya hari pembalasan di hari kiamat nanti. Pembalasannya pun pembalasan yang seimbang. Bagi yang bertaqwa kepada Allah, akan diberikan pembalasan berupa surga dan bagi yang melanggar perintah Allah, akan diberikan pembalasan berupa hukuman atau neraka. Oleh karena itu apabila manusia tidak mendapatkan hak dan kewajibannya dilanggar, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibanya itu. Mempertahakan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
    

 Daftar Pustaka :
 Buku Seri Diktat Kuliah, MKDU : Ilmu Budaya Dasar. Karya Widyo Nugroho & Achmad Muchji.  Penerbit Universitas Gunadarma.

Minggu, 19 April 2015

Ilmu Budaya Dasar BAB 6

Manusia dan Penderitaan

A.    Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita artinya menahan atau menanggung. Derita adalah menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir, penderitaan batin atau penderitaan lahir dan batin. Penderitaan termasuk realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat, ada yang ringan.

Peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa atau kejadian yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan. Manusia butuh pembaruan diri dalam hidupnya.

Manusia butuh pembaruan dalam hidupnya. Agar manusia tersebut dapat mengambil pelajaran betapa tidak menyenangkan hidup dalam penderitaan. Penderitaan yang dialami oleh setiap orang itu merupakan risiko hidup. Disamping Tuhan memberikan kebahagian dan kesenangan hidup, Tuhan juga memberikan penderitaan kepada umatnya. Hal tersebut bermakna agar manusia sadar untuk tidak berpaling dari kebaikan, menuju jalan yang benar, serta tidak berpaling dari-Nya.

Baik dalam Al-Qur’an maupun kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang menjelaskan tentang penderitaan yang dialami oleh manusia, berisi peringatan bagi manusia akan adanya penderitaan, serta bagaimana manusia menghadapi penderitaan tersebut. Tetapi pada umumnya manusia kurang memperhatikan bahkan mengabaikan peringatan tersebut, sehingga manusia mengalami penderitaan.

Banyaknya macam kasus penderitaan sesuai dengan perjalanan kehidupan manusia. Penderitaan fisik yang dialami manusia dapat diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya. Sedangkan penderitaan psikis, penyembuhannya terletak pada kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikis yang dihadapinya.

B.     Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat siksaan yang dialami oleh seseorang, maka timbullah penderitaan. Siksaan yang sifatnya psikis bisa berupa : kebimbangan, kesepian, ketakutan, kekhawatiran, dan sebagainya.

Kebimbangan dialami seseorang apabila ia pada suatu keadaan tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Kesepian dialami seseorang merupakan rasa sepi dalam jiwanya sendiri, walaupun berada di sekitar atau lingkungan yang ramai. Ketakutan merupakan suatu hal yang menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain : claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, kesakitan, kegagalan. Kekhawatiran adalah rasa cemas, rasa was-was atas apa yang akan terjadi.

Didalam Al-Qur’an dijelaskan jenis dan ancaman siksaan yang dialami manusia di akhirat nanti, diantaranya siksaan bagi orang-orang musyrik, syirik, dengki, memfitnah, mencuri, memakan harta anak yatim, dan sebagianya. Oleh karena itu, manusia ketika hidup didunia semestinya dan sepantasnya berbuat kebaikan. Dengan berbuat kebaikan maka akan dicintai oleh Allah dan juga orang-orang disekitarnya.

C.    Kekalutan Mental
Kekalutan mental terdapat dalam ilmu psokologi yang mengandung arti penderitaan batin. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan, kekacauan, kebingungan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar. Kekalutan mental berarti orang tersebut sedang mengalami kejatuhan mental.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
1. Gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani  
    maupun rohani.
2. Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif.
3. Kekalutan merupakan titik patah  dan yang bersangkutan mengalami gangguan.

Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental :
1. Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna.
2. Terjadinya konflik sosial budaya akibat norma yang berbeda dengan masyarakat.
3. Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap  
     kehidupan sosial.

Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan negative.
Positif : luka jiwa yang dialami dijawab dengan baik, sebagai usaha agar tetap sabar dalam menghadapi hidup, misalnya melakukan sholat tahajud, memohon ampun kepada Sang Pencipta atas dosa-dosa yang telah dilakukannya ataupun melakukan kegiatan yang positif lainnya.
Negatif : trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan.

Oleh karena itu orang yang mengalami kejatuhan atau kekalutan mental seharusnya mendapat dukungan moril dari orang-orang dekat di sekitarnya seperti orangtua, keluarga, sahabat maupun teman dekat. Hal tersebut dibutuhkan agar orang tersebut mendapat acuan semangat untuk menjalani hidup.

D.    Penderitaan dan Perjuangan
Setiap manusia pasti akan mengalami penderitaan, baik yang berat maupun yang ringan. Penderitaan adalah ujian kehidupan manusia yang berasal dari Tuhan. Karena tergantung kepada manusia itu sendiri bisa menyelesaikan masalah tersebut semaksimal mungkin atau tidak. Manusia adalah makhluk berbudaya, dengan budaya itulah ia berusaha mengatasi penderitaan yang mengancam hidupnya atau yang dialaminya. Hal ini bisa mebuat manusia lebih kreatif, baik bagi penderita sendiri maupun bagi orang lain yang melihat atau berada di sekitarnya.

Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi takdir dari manusia itu sendiri, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, tetapi juga harus merasakan penderitaan. Manusia juga harus optimis setiap mengalami penderitaan tersebut karena penderitaan adalah ujian dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita dapat mencoba menghilangkan penderitaan kita dengan cara berjuang yaitu dengan terus berusaha merubahnya. Ada banyak cara yang ditempuh agar terbebas dari penderitaan, walaupun penderitaan datangnya tidak menentu. Diantaranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam proses hidup kehidupan baik di dalam masyarakat sekitar, alam lingkungan, dan sebagainya. Selain itu disertai do’a dan lebih rajin beribadah kepada Tuhan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

E.     Penderitaan, Media Massa dan Seniman
Penderitaan bisa datang dari beberapa aspek. Dalam dunia modern sekarang ini kemungkinan terjadi penderitaan itu sangat besar. Hal ini dibuktikan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Kemajuan teknologi terkadang memberikan dampak negatif terhadap lingkungn serta kelangsungan hidup manusia. Diantaranya ialah penciptaan bom atom, reaktor nuklir, pabrik senjata, peluru kendali, pabrik bahan kimia merupakan sumber peluang terjadinya penderitaan bagi manusia. 

Beberapa sebab lain yang menimbulkan penderitaan manusia adalah kecelakaan, bencana alam, bencana peperangan, dan sebagainya. Contohnya meletusnya gunung berapi, tsunami, kebakaran hutan, banjir, dan sebagainya bisa membuat manusia menderita karena bencana tersebut. Tidak semua penyebab penderitaan itu datangnya dari Tuhan, terkadang manusia itu sendiri yang membuat penderitaan untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Berita mengenai penderitaan manusia silih berganti mengisi lembaran koran, layar kaca, radio dan berbagai media lainnya. Berita-berita tersebut ditayangkan dimaksudkan agar semua orang yang menyaksikan tau, melihat serta ikut merasakan penderitaan sesamanya. Dengan demikian diharapkan dapat menggugah hati manusia bagi yang merasa simpati untuk bebuat sesuatu. Sehingga tidak sedikit bantuan dari para dermawan, organisasi kemanusiaan ikut serta untuk meringankan penderitaan tersebut.

F.     Penderitaan dan Sebab-Sebabnya
Berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat dibagi menjadi dua bagian, diantaranya :

Pertama, penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia. Penderitaan ini dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini dapat dikatakan nasib buruk. Nasib buruk ini dapat diperbaiki suapaya menjadi lebih baik lagi. Contoh dari penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk yang terjadi dalam hubungan sesama manusia antara lain, pembunuhan antar sesama manusia, perampokan, pencurian, korupsi, dan sebagainya. Kemudian contoh dari penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk yang terjadi dalam hubungan manusia dengan alam sekitarnya, antara lain musibah banjir, tanah longsor, kebakaran hutan yang semuanya merupakan bagian dari perbuatan  manusia yang lalai terhadap alam lingkungannya.

Kedua, penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan atau azab Tuhan. Penderitaan manusia juga dapat terjadi berasal dari pemberian Tuhan. Suatu contoh, diambil dari kisah para Nabi, Terutama Nabi Ayub a.s. Nabi Ayub mengalami siksaan dan ujian yang berat dari Allah. Selama bertahun-tahun ia menderita penyakit kulit. Sehingga Ia dan istrinya dikucilkan dan diusir oleh masyarakat sekitar dari tempat tinggal mereka . Tetapi dengan sabar Ia menerima cobaan ini. Berkat kesabaran dan kepasrahannya kepada Allah, maka sembuhlah Nabi Ayub. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa setiap dihadapkan dengan masalah hidup, hendaknya kita tidak putus asa, bersabar, bertawakal, dan berdo’a kepada Allah SWT.

G.    Pengaruh Penderitaan
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh berbagai pengaruh dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif dan sikap negatif. Sikap negatif diantaranya sikap kecewa, tidak bahagia, penyesalan, putus asa, sikap anti, tidak punya gairah hidup. Sikap positif yaitu sikap optimis dalam mengatasi penderitaan hidup, perjuangan membebaskan diri dari penderitaan. Optimis bahwa setelah mengalami penderitaan maka akan timbul kebahagiaan.

Apabila sikap positif dan sikap negatif dihubungkan, maka akan didapat sebuah penilaian. Penilaian itu dapat berupa kemauan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Suatu keadaan yang sudah tidak sesuai ditinggalkan dan diganti dengan keadaan yang lebih sesuai. Keadaan yang berupa hambatan harus sesegera disingkirkan.

 Soal.
1.  Manusia harus berjuang mengatasi penderitaan hidup. Pernyataan ini adalah pernyataan sikap akibat      penderitaan berupa ...
     A. sikap optimis *
     B. sikap tawakal
     C. sikap putus asa
     D. sikap penyesalan

2.  Rasa sakit atau penyakit pada hakekatnya merupakan ...
     A. siksaan bagi manusia
     B. penderitaan manusia
     C. neraka dunia bagi manusia
     D. a, b dan c salah semua *

3.  Rasa takut yang dibesar-besarkan yang tidak pada tempatnya disebut ...
     A. kebimbangan
     B. phobia *
     C. kecemasan
     D. ketakutan

4.  Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental, seperti dibawah ini kecuali ...
     A. shock emosional *
     B. kepribadian yang lemah
     C. terjadinya konflik sosial budaya
     D. cara pematangan batin yang salah

5.  Dalam cerita kisah Nabi Ayub a.s. yang terkena penyakit kulit, penderitaan semacam ini merupakan      penderitaan ...
     A. karena berdosa kepada Tuhan
     B. karena cobaan Tuhan *
     C. karena penyakit biasa
     D. karena siksaan Tuhan


Daftar Pustaka :

Senin, 13 April 2015

Ilmu Budaya Dasar BAB 5

Manusia dan Keindahan

A.    Keindahan
Kata keindahan berasal dari kata dasar “indah”, yang artinya bagus, cantik, permai, elok, molek dan sebagainya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keindahan diartikan sebagai keadaan atau sesuatu yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Suatu hal atau benda yang bersifat dan memiliki nilai keindahan ialah segala hasil seni, perpaduan warna, suara, pemandangan alam, bangunan, tatanan, dan sebagainya. Jadi, keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya.

Keindahan identik dengan kebenaran. Artinya apabila sesuatu enak dilihat dan dipandang maka sulit untuk mengatakan bahwa sesuatu yang dilihat itu tidak indah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, gaya selera, kedaerahan bersifat menyeluruh. Setiap manusia dilahirkan dan dibekali dengan banyak sekali keindahan. Keindahannya baik dari dalam, dari luar, maupun yang ada disekitarnya. Hal ini patut disyukuri oleh setiap manusia.

Keindahan merupakan susunan kualitas atau pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal kulitas yang paling disebut adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance) dan pertentangan (contrast). Manusia dan keindahan memiliki hubungan yang erat. Keindahan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Manusia perlu keindahan. Dengan adanya hubungan manusia dan keindahan memang maka kita perlu melestarikan bentuk dari keindahan yang dapat dituangkan atau diaplikasikan dalam berbagai bentuk suatu karya, yaitu dapat berupa kesenian, lukisan, tarian dan sebagainya. Hal tersebut nantinya dapat menjadi bagian dari suatu kebudayaan yang dapat dibanggakan dan diperkenalkan dari generasi ke generasi. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun kapan pun dan siapa saja dapat menikmati keindahan.

B.     Renungan
Renungan berasal dari kata dasar “renung” yang artinya memikirkan sesuatu secara diam-diam, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan merupakan wujud dari merenung. Renungan dapat berupa memikirkan tentang sesuatu yang dirasanya ada yang kurang, sesuatu yang tidak sempurna, atau masalah dalam kehidupan. Renungan dapat menentramkan jiwa, menenangkan hati dan membuat aliran suatu pikiran menjadi lancar.  Renungan juga dapat berupa memikirkan sesuatu untuk menciptakan suatu karya seni.

Renungan bisa juga dikatakan memikirkan sesuatu hal yang telah terjadi, yang baru terjadi, maupun belum dialami oleh manusia. Suatu contoh renungan yaitu, suatu ketika manusia ingin membuat suatu karya seni rupa. Kemudian manusia itu belum mempunyai ide tentang karya seni rupa apa yang ingin dibuat. Salah satunya dengan cara merenung, lalu pergi ke suatu tempat yang tenang. Dia mengharapkan suatu petunjuk atau ide untuk karya seni rupa yang ingin ia buat. Dalam merenung menciptakan seni ada beberapa teori. Teori-teori itu ialah : teori pengungkapan, teori metafisik dan teori psikologik.


C.    Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi yang mengandung arti cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kemudian keserasian merupakan keselarasan, kesepadanan, keharmonisan antara yang satu dengan yang lainnya. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang.

Dalam pengertian perpaduan misalnya, warna cat rumah dipadukan suasana alam yang hijau disekitarnya. Apabila warna cat rumah itu cocok dengan alam sekitarnya maka akan enak dipandang. Karena itu dalam keindahan ini, sebagian para ilmuan menjelaskan, bahwa keindahan pada dasamya adalah sejumlah kualitas atau pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kulitas yang paling disebut oleh sebagian ahli piker adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance) dan pertentangan (contrast).

Filsuf Ingris Herbert Read merumuskan definisi, bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat di antara pencerapan-pencerapan inderawi kita (beauti is unity of formal relations among our sence-perception). Pendapat lain menganggap pengalaman estetik suatu keselarasan dinamik dari perenungan yang menyenangkan.

Teori tentang Keserasian.
1. Teori Objektif dan Teori Subjektif
         Teori Objektif menyatakan bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetika adalah sifat (kualitas) yang memang melekat dalam bentuk indah yang bersangkutan. Pendukung teori objektif adalah Plato, Hegel, dan Bernard Bocanquat. Sedangkan teori subjektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri. Pendukung teori subjektif adalah Henry Home, Earlof Shaffesbury, dan Edmund Burke.
 2. Teori Perimbangan
      Dalam arti yang terbatas yakni secara kualitatif yang di ungkapkan dengan suatu perhitungan, keindahan sesungguhnya tercipta dan tidak ada keteraturan yakni tersusun dari daya hidup, penggambaran, pelimpahan, dan pengungkapan perasaan.


Soal-soal.
1. Keindahan dan kebenaran adalah, kecuali ...
    A.  kebenaran jauh berbeda dengan keindahan *
    B.  tanpa kebenaran tak ada keindahan
    C.  mempunyai nilai yang sama / identik
    D.  keduanya mempunyai nilai yang sama

2. Menurut cakupannya orang membedakan antara keindahan sebagai ...
    A.  arti estetik
    B.  suatu kualita abstrak *
    C.  hal yang mengagumkan
    D.  bernilai intrinsik

3. Nilai estetik itu sebenarnya terdapat pada ...
    A,  jiwa benda itu
    B.  benda itu sendiri
    C.  kegunaan benda itu
    D.  a,b,dan c benar *

4. Tiap orang pernah merenung. Kadar merenung itu tergantung pada ...
    A.  subjeknya
    B.  objek renungan
    C.  hasil renungan *
    D.  masalah yang dihadapi

5. Berikut adalah teori tentang keserasian, kecuali ...
    A.  Teori Estetika *
    B.  Teori Objektif
    C.  Teori Subjektif
    D.  Teori Perimbangan


Daftar Pustaka: